Mengenal Distribusi Linux Asal Indonesia

Friday, March 17, 2017

Di Indonesia, perkembangan opensource dan linux tergolong cukup pesat. Selain sebagai pengguna, banyak komunitas yang mulai "melahirkan" distro distro baru. Dan jangan salah, banyak distro lokal yang cukup populer dan memiliki banyak pengguna. Dan berikut beberapa diantaranya.
1. DracOS Linux

Menempatkan DracOs Linux di urutan pertama saya rasa tidak berlebihan. Berbeda dengan kebanyakan distro lokal yang merupakan turunan dari Debian atau Ubuntu, DracOs adalah sistem operasi linux, bersifat opensource yang di bangun berdasarkan Linux From The Scratch. Dracos linux di bawah perlindungan GNU General Public License v3.0. Sistem operasi ini merupakan salah satu varian distro linux , yang di gunakan untuk melakukan pengujian security (penetration testing).

Dracos linux di bekali oleh ratusan tools pentest, forensics dan reverse engineering. Dracos linux tidak menggunakan tools-tools berbasis GUI dan hanya memilki perangkat lunak yang menggunakan CLI (command line interface) untuk melakukan operasinya.


2. GrombyangOS

Grombyang OS adalah pengembangan atau remastering salah satu distro Linux yakni XUbuntu 14.04.3 oleh grOS-TEAM menjadi sebuah OS distro lokal yang kami beri nama Grombyang OS atau biasa di sebut dengan grOS. GrombyangOS di desain sebagai sistem operasi berbasis pendidikan, yang mana di dalamnya juga sudah dilengkapi dengan aplikasi pendidikan seperti LibreOffice, Kalzium, BKchem, KAlgebra, KBruch, KGeography, Othman Quran Browser. Selain itu Grombyang OS juga dilengkapi dengan aplikasi multimedia meliputi audio dan video.

Dalam Perjalananya sekarang grOS sudah mencapai versi 2.0, menggunakan desktop xfce yang ringan.

Situsgrombyang.or.id

3. BlankOn Linux
Linux BlankOn adalah distribusi Linux yang dikembangkan oleh Tim Pengembang BlankOn. Distribusi ini dirancang dan disesuai dengan kebutuhan pengguna komputer umum di Indonesia. Linux BlankOn dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama untuk menghasilkan distro Linux khas Indonesia, khususnya untuk dunia pendidikan, perkantoran dan pemerintahan.

Semenjak dari versi 8, BlankOn menggunakan Debian sebagai indukkan dan memiliki DE (Desktop Environment) sendiri yang bernama Manokwari. Versi paling baru BlankOn adalah BlankOn X dengan nama kode Tambora.


4. IGOS Nusantara (IGN)
IGOS Nusantara disingkat IGN adalah sistem operasi dengan perangkat lunak legal, handal dan tanpa membayar lisensi untuk pengguna di Indonesia. IGOS Nusantara dikembangkan oleh Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama dengan komunitas. IGOS Nusantara secara konsisten dikembangkan sejak tahun 2006. Setiap tahun dikeluarkan versi baru. Versi pertama dirilis tahun 2006 memakai nama IGN 2006 (R1), lalu IGN 2007 (R2), IGN 2008 (R3), IGN 2009 (R4), IGN 2010  (R5) dan IGN 2011 (R6). Mulai rilis ketujuh atau R7, IGOS Nusantara tidak memakai kode tahun. Sejak IGN 8.0, selain versi 32bit juga tersedia versi 64bit. Tahun 2014 tersedia rilis sepuluh atau IGN X.


5. TeaLinuxOS
TeaLinuxOS adalah distro Linux turunan Ubuntu yang dikembangkan oleh Dinus Open Source Community (DOSCOM) yang berorientasi pemrograman. Dengan menghadirkan filosofi, “Nikmatnya sebuah racikan”, TeaLinuxOS dikembangkan secara terbuka dan bersama-sama untuk menghasilkan distro Linux pemrograman yang dikhususkan untuk dunia pendidikan.


Sebenarnya masih banyak distro distro lokal yang keren dan patut dicoba seperti Desa OS, Kuliax, dan ratusan distro lainnya. Namun karena sebagian besar situs official mereka sudah tidak aktif saya tidak bisa mengkonfirmasi apakah project mereka masih berjalan atau tidak.

Baik, sekian artikel kali ini mengenai distro linux lokal buatan komunitas dalam negeri. Ayo dukung mereka agar terus berkarya di bidang linux dan opensource.

Artikel Terkait Artikel ,Distro ,Linux

2 comments:

  1. ane mau coba draklinux cuma gagal maning gagal maning (tuyul mbak yul)... semoga kedepan ane bisa install nya.....

    ReplyDelete