Kernel Generic dan Low Latency. Perlukah Kita Memasang Kernel Low Latency?

Sunday, May 14, 2017

Yoo, pada pembahasan kali ini saya akan sedikit mengulas tentang kernel generic dan low latency. Dan benarkah kernel low-latency meningkatkan performa sistem operasi yang kita pakai ? Perlukah diinstall untuk penggunaan sehari hari?
Sebelumnya, apa sih perbedaan kernel generic dan low-latency ?
Pada kernel generic itu umumnya konfigurasi yang mengakomodasi penggunaan sistem secara luas dari desktop sampai server. Dalam sistem generik kernel membagi sumber daya mesin secara relatif merata, baik untuk servis maupun untuk user desktop. karena pembagian sumber daya yang merata ini maka kerja mesin / sistem operasi jasi stabil.

Sedangkan pada kernel low-latency, tujuan dibuat kernel ini adalah untuk mengurangi latensi. Kekurangannya, kernel ini bekerja lebih berat (real time) sehingga benar benar embutuhkan resource lebih. Inilah kenapa kernel low-latency tidak dipasang secara default.

Oke, jadi di beberapa artikel yang saya baca, masih banyak yang tidak paham dengan kedua jenis kernel ini. Masih banyak yang beranggapan kernel low-latency akan meningkatkan performa sistem operasi GNU/Linux yang kita pakai.

Karena awalnya masih bingung saya melempar pertanyaan ke grup Ubuntu Indonesia untuk jadi bahan diskusi. Benarkah kernel low latency dapat meningkatkan performa ? Dan apakah latensi yang dimaksud disini mencakup semua aspek, atau cuma latensi audio. (saya beranggapan hubungannya hanya dengan audio karena kernel low-latency hanya dipasang di Ubuntu Studio).

Dari hasil diskusi dengan teman teman di grup saya mendapatkan referensi tambahan. Nyatanya, kita tidak perlu memasang kernel low-latency. Berikut penjelasan yang saya ambil langsung dari grup. Generic kernel itu sudah cukup optimal buat mengerjakan hal-hal produksi atau keseharian yang gak butuh proses interaksi/feedback secara realtime (desgraf, ngetik makalah, illustrasi). Sedangkan real-time/low-latency khusus dibutuhkan kalo memang emang kegiatan/produksi yg dibutuhkan di komputer itu harus punya feedback realtime seperti main instrument musik lewat DAW, MRI scanning maybe kalo di kedokteran.

Setelah mencari referensi tambahan dari askubuntu dan reddit barulah saya memutuskan tidak perlu melakukan upgrade kernel ke low-latency. Sebagai bukti penguat, salahsatu artikel di phoronix.com mengulas perbandingan kernel generic dan low-latency untuk gaming, Dan memang disana disertai grafik yang menunjukkan kernel low-latency tidak mampu berbuat lebih. Dari segi performa tidak beda jauh, bahkan di beberapa aspek kernel generic lebih unggul.
Dapat dilihat dari grafik diatas, dengan spesifikasi yang sama kernel generic mampu mendapatkan fps lebih tinggi dari kernel low-latency.
Untuk artikelnya silahkan dibaca di alamat berikut :

A Low-Latency Kernel For Linux Gaming

Di tabel yang saya dapat dari linux foundation pun menunjukkan bagaimana kernel real-time atau low-latency ini dibutuhkan. Dan memang kernel ini diperuntukkan bukan untuk kegunaan sehari hari (buat ngetik dan kegiatan kantoran lainnya) maupun buat gaming.

Singkatnya, Low Latency cuman berefek signifikan untuk hal yang berkaitan input audio sama live performing. Jadi tidak ada hubungannya dengan performa yang lain. Kekurangan kernel ini sendiri adalah karena membutuhkan respon real-time inilah butuh resource lebih. Sehingga kalau leptopmu tidak memiliki spek cukup, alih alih dapet performa lebih, yang ada malah makin lag.

Oke sekian tulisan mengenai kernel generic dan low latency kali ini. Semoga bermanfaat. Jika ada yang salah silahkan dikoreksi. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan komentar.

Artikel Terkait Artikel ,Kernel ,Linux

No comments:

Post a Comment